Sebelum kau baca ceritaku, kau harus tahu bahwa kemarin itu hanya sepenggal cerita yang telah aku lalui. Langkah kaki semakin lelah menyusuri setiap musim, langkah kaki itu juga yang selalu memaksa aku untuk berfikir keras. Ada banyak yang dirasakan entah yang sempat atau tak sempat terungkap, dan aku tahu betapa hancurnya jiwa diam tersapu lembut jemari angin. Selaksa kerinduan semakin mendalam, datang mengoyak dan merebut isi hati.
Suatu kenangan pertama bagi bapak. Ketika aku lahir ke dunia di bawah naungan kesederhanaannya, tidak seperti mereka yang berbahagia menjadi diri sendiri. Usia lima tahun aku selalu menanyakan keberadaan ibuku, bapak selalu saja menunjuk arah yang sama. Sosok mati ibu telah lama tergantung di dinding rumah. Semakin hari semakin berisi kekosongan, maka dari itu aku beranikan untuk keluar rumah dan hidup di jalan.
Ku sebut diri ku "Jhony" sebab aku pun tak tahu siapa diri kalian. Sejak aku ditinggal mati oleh adik kandungku aku mulai mengerti bahwa hidup ini pasti sendiri, hingga lama di jalanan aku bertemu dengan Bobi, Trash dan Ben. Perjuangan pun tercipta dari pertemuan empat anjing ini, kami mengklaim bahwa nama kami adalah A-INVASION. Musik yang berpahamkan jalanan yang keras dan beridialis.
Kebetulan dua hari lagi akan ada acara di sekitar wilayah Bumi Manusia tempat kami bekerja, persiapan-persiapan dari yang kecil hingga ke yang paling besar mulai dikerjakan. Sejak awal ku lihat Bobi sebagai masalah utama bagi kehidupan A-INVASION, pemikiran Bobi sperti karang dan sering berbenturan dengan anggota lain.
Di tengah persiapan kami perseteruan diantara tubuh A-INVASION ada masalah yang semakin membengkak, akhirnya bobi memutuskan untuk keluar dengan damai. Bobi merasa konsep bermusiknya tidak sejalan dengan kami semua, mau tidak mau kubu band kami tinggal dimotori oleh tiga begundal. Selamat jalan Bobi.
Banker di jalan merdeka 101 tempat diselengarakannya suatu acara bernama KERAS KEPALA, acara yang sudah lama ditunggu oleh semua anak-anak lainnya, giliran kami akan menyalakan speaker bernyanyi terletak pada nomer urut terakhir. Suasana di sini jadi liar runtah ruah menghancur kesadaran, ini akan menjadi hidup yang senang apa bila kalian coba melakukannya. Seperti yang kami rasakan bahwa semua teman-teman terhibur dengan adanya cara ini. Bukan masalah menang dan kalah dalam suatu laga pertunjukan, tapi yang terpenting kali ini adalah nilai kebersamaan pada kaum minoritas.
Acara mulai menginjak babak usai bertanda kami semua harus kembali lagi ke jalanan, bobi juga berteriak-teriak melepas salam OI dari tengah kerumunan manusia bebas. aku menyadari bahwa ia sedang memberikan sebuah semangat yang sangat kami butuhkan. untuknya aku berucap terimakasih di dalam hati sembari ku balas dengan senyuman bebas, bahagiaku karena segala suara perlawanan dapat tersampaikan di atas panggung. Tiba di Penghujung acara panitia meminta kerjasama kami untuk membantu mereka membersihkan peralatan beserta sampah-sampahnya. Bagiku sungguh nafas baru itu telah ditiupkan.
minggu 1 januari 2008 tanpa komando wajah ku arahkan pada hamparan asap kendaraan, tiada salahnya melepas segala penat pikuk kemunafikan setelah seharian bertarung di bawah lampu merah. Aku seolah meratapi sobekan di celana yang ingatkan aku pada satu luka bersama rangkaian-rangkaian cerita, peristiwa-peristiwa desa bersama bapak tetap menjadi hal yang terindah. aku jadi antipati kayaknya, guman hatiku terusik. Ku pertimbangkan lagi segala peristiwa sejarah, tanyakan sesal tiadalah pasti akan berguna. Di sana ada banyak tentara yang berbaris di bawah sesembahan baru manusia, tapi di sini kota sesatkan aku dengan doktrin penyeragaman.
poommmmmm....!!! buyar serentak digertak suara kelakson teronton, "asu bajingan nyantai sitik ngopo sih ?!" ekspresi salah satu temanku membuat aku tertawa.
"yuh..tuku udut karo ombe sing adem" Bobi merengek padaku, hasil mengamen pun setengahnya harus dipotong buat jajan.
selang beberapa saat di warung Bajingok Bobi mengajakku bercerita ngalor-ngidul. "selalu ku harapkan kehadiran teman yang dulu tak sempat aku tanyakan dimana rumahnya" kata Bobi, bercerita padaku. Dengan cepat Bobi membuat aku bingung.
"kami ingin memiliki studio sendiri, dari hasil mengamen" begitulah yang ia katakan pada Bobi. aku tidak habis pikir kenapa Bobi menceritakan ini semua di warung Bajingok.
aku melihat ada satu niat tulus pada Bobi, meski dirinya berasal dari kalangan orang mapan. Bobi memendam bakat istimewa di tubuhnya, bakat itu serasa memiliki daya ledak yang tinggi. Aku sering heran dengan sikap humor yang dimiliki Bobi berkesan menganggap segala hal adalah mudah, betapa tidak ku rasa dia sanggup melakukan semua itu di atas perlakuan ketidakpedulian kedua orang tuanya. Bobi yang selalu sok hebat ini lebih baik bila dibandingkan dengan Ben.
Entah apa penyebabnya, Ben dan trash ku dapati sedang berpesta obat-obatan. Dengan tidak pedulinya mereka berdua mengangkat jari tengah ke arah Bobi yang sedang menegur mereka, selang beberapa detik perang mulut di antara mereka tak terhindarkan. Diriku yang tengah mencoba melerai mereka malah disambut dengan pukulan, aku merasa ingin marah karena tidak menerima perlakuan ben dan trash. Aku dan Bobi akhirnya mengalah dan pergi menjauh dari hadapan mereka.
Rabu 31 Desember 2008. senja telah menunjukan selembar jawaban yang tiada berujung, seakan jawaban itu turun di tengah diskusi manusia rapuh di bawah langit merah. Menurutku dunia beserta isinya adalah sebuah omong kosong, dan aku yakin jarang ada yang benar-benar memiliki kejujuran. semakin lama A-INVASION mulai kehilangan konsentrasi untuk bertempur. Semua anggota mengalami komplikasi kronis dan tidak bisa disembuhkan, semua harus dihancurkan pada minggu ke-dua setelah acara di banker jalan merdeka kemarin. Kami memilih untuk berjalan pada prinsip masing-masing.
Teman-teman yang telah beseberangan membuat aku semakin kehilangan arah, kini Bobi pun tidak lagi aku pedulikan sama sekali. setiap malam ku habiskan waktu hanya bersama minuman yang ada di pelukanku, sakit hatiku semakin berkobar sejalan dengan Handpone yang berbicara penuh lirih. Bibi memberi tahu bahwa bapak sudah habis diterjang usia, gunaku bagai tidak berarti di ujung hari-hari bapak. bulan semakin melengkapi malam yang penuh aroma duka bercampur emosi, aku telah kalah besar di dalam perjalanan hidupku yang selalu mencari pelarian. Sungguh hari ini adalah malam dimana aku ingin mati.
Hari ini aku baru pulang dari acara pemakaman bapak, ku janjikan tak akan pernah kembali ke desa sebelum aku puas mendapati jawaban. Ku jalani hari layaknya pecundang yang takut dengan hari selanjutnya, mata ku biasakan terpejam di setiap saat ketika aku rasakan ribuan sakit menerjang dadaku. Tak jarang ku lebarkan senyum tawa persis seperti orang gila.
Apakah mereka masih mengingat cerita yang pernah mereka buat bersamaku, pikiran itu semakin membuat aku resah dalam kerinduan masa lalu. Aku dulu sering mengantikan diri terhadap segala bentuk penindasan dan kebodohan, namun sekarang hanyalah aku yang kosong juga lemah dalam kehidupan. Botol minuman keras ini awalnya sangat dibenci, sekarang malah jadi sahabatku, begitu semangatnya aku menindas diriku sendiri dengan kebodohan yang ada di kepalaku.
Tahun pun brganti seiring waktu yang berhembus pelan, ku hapus suram di hari yang lalu dimana ia kerap sesakkan aku. Ruang hati mulai terbiasa dan terisi oleh pembaharuan dari sakit itu, aku mulai mengerti kesalahan yang sudah terjadi. Bagai orang bangun dari tidur panjangnya, begitu lamanya aku terjebak dalam tanda tanya.
Kini ku jalani apa yang tidak pernah aku suka, sendirian aku ingin bangkit melawan segala himpitan di dada. sebab kini ku lihat segala arah tidak lagi seperti sedia kala, maka tinggalah aku bersama sepi dan bertahan menjalani sisa-sisa mimpi yang ada. sayang aku tak pernah menjalani kesuraman bersama Bobi, aku terlalu egois untuk memahami segalanya sendirian. Singkat ku teringat pada teman-teman saat melintasi banker di jalan merdeka.
sekarang semua sudah lewat lebih dari tiga tahun. Bobi masih tetap tegar berjalan seperti adanya, dengan prasaan juga bayang hitam aku beranikan diri menemui Bobi. Masih kurasakan ada kebersamaan Bobi menyambutku lagi seperti dulu, walaupun ia tidak berubah namun secara pribadi aku menyimpan suatu pengharapan yang kuanggap setengah sia-sia. sudahlah kini aku tengah memiliki hidup baru, aku tetap percaya bobi bisa menerima keadaannya sekarang. Menjadi buruh pabrikan.
Pikirku mungkin semua akan mudah untuk dimengerti jika ben, trash dan bobi masih disini. Kuceritakan semua lamunan yang membawa aku pada kerinduan akan kalian di masa indah yang lalu, aku akan terus berdiri di antara udara malam dingin bersama hatiku. Tiga tahun bukanlah waktu yang cepat, tapi ku rasa semua yang indah telah berlalu. Bobi hanya tersenyum dan menepuk bahuku.
Bobi memberikan lembaran kertas yang berisikan baris lagu buatannya kepadaku, Bobi meminta aku untuk membuatkan nada pada lirik lagu itu. saat itu juga dengan kekurangan yang ada aku dan Bobi merasakan semua kembali seperti dahulu, aku dapat memahami apa yang dimaksud Bobi dengan semua ini.




