Tak terasa kita telah menginjakkan kaki di penhujung tahun 2011, coba lihat lah lagi keagungan sejarah kita yang busuk. Tadi pagi aku melihat dua bocah polos berjalan berdua menuju sekolahnya, seragam putih merah itu juga pernah aku kenakan dahulu. Itu dimana masaku benar-benar putih bersama Doni.
Dari tadi siang aku duduk dengan posisi kaki kanan terlipat tegak di atas kursi, hingga pukul 17.40 langit di ujung barat masih merah menyalakan bujuk rayu. Membuat aku enggan berpaling darinya. Pebentangan sawah mulai diselimuti temaram, suasana hening tergambar jelas di depan mataku. Diam ku semakin membisu kaku dan mata ini merasuki tiap-tiap dimensi maya, setelah hujan turun habis aku rasakan puluh kecewa melilit leherku. Empat tahun setelah bencana badai di kampung bukanlah waktu yang singkat utnuk kami bertahan.
Semua sudah jelas cukup memuakan bagiku, keindahan yang damai memang hanya ada di dalam mimpi tiap manusia. Termasuk aku dan adikku juga melabuhkan harapan ke arah dimana keindahan itu berada. Menunggu perubahan sama saja dengan menunggu kiamat kecil, sedikit demi seikit kiamat kecil bermunculan. Jiwa kami diterpa tingginya ombak hingga jiwa terasa terombang ambing membentur dinding kenyataan, yag bicara selama ini adalah semua kebusukan hingga kemunafikan ego yang siap meregang nyawa kami. Bulan malam ini memang bersinar terang, seterang jiwa kami yang tersiksa batin. Diskusi-diskusi malam tak terelakan bersama empat mata telah menuai amarah tertinggi dalam hidup kami.
Kelaparan itu memang menyiksa sekaligus menyesatkan, dunia luar tak lagi seindah masa kecilku. Di sana banyak bertebaran kanibalis yang merasa sakit hatinya, aku mulai takut jika keluar ruamah sendirian. Oh betapa indahanya hasrat suci yang terabaikan, perlahan ia redup kusam dimakan belatung dari liang kubur yang bertuliskan masa lalu di atas nisannya.
Di hari minggu nan damai aku terkejut, padahal tiada apa-apa tapi tiba-tiba Toni mengatakan bahwa ia muak dengan musik punk yang aku sukai. Ia merasa dirugikan oleh idialisme yang membentang di tiap lagu tiga nada ini. Aku diam lalu bertahan sekuat tenaga, aku tersungkur di sudut kamar memandangi poster logo band SLANK. Roda gigi otak ku berputar semakin kencang dan membuat aku panas dalam, jika kepala ini mesin mungkin sudah akan mengepulkan asap.
Satu, dua, tiga jam ku nikmati bersama segenggam botol sprite yang dianggap sebagai salah satu simbol kerakusan dunia. "Peduli apa, ya peduli apa dunia ini padaku !?" terngiang kata hati berbicara kencang. Lebih kencang dari kentut mereka. Persetan Toni yang rakus, semoga ia berbahagia menikmati nafsu dan uang di hari esok. Waktu aku lagi sibuk merenung ehh Doni adik ku malah masuk ke kamar, tak lupa ditentengnya pula anak kecil dari tetangga sebelah.
Tertawa karena Edi kecil sih iya, bagaimana tidak dia berlari seperti bebek saat mengejar ku. Edi memang suka bermain kuda-kudaan, makanya dia berusaha mengejar aku guna menikmati punggungku. Tapi aku heran bocah seperti Edi tidak akan bertahan lama kepolosannya, aku meyakini ia bakal bisa bermetamorfosis di usia belasan. Semoga kelak ia tidak menjadi kupu-kupu beracun.
Minggu telah berganti senin yang sendu, 05 Desember 2011 dini hari aku menatap wajah pada cermin kusam. Aku jadi teringat Edi yang masih lucu-lucunya, di hadapan cermin aku bertanya pada diriku hingga bicara bak orang gila. Ku nyalakan rokok bersama air mata yang terurai di pipi hitamku, lalu embali ku tatap wajahku sepuas hati yang larut dalam alunan musik keras di telinga, untung aku telah berhenti mengkonsumsi obat dan alkohol. Jika tidak aku udah sangat menggila di tengah malam.
Sepulang kerja ku ceritakan semua kejadian pada Doni, tentang apa-apa saja yang menurutku patutut diperbincangkan. Edi yang terlelap setelah seharian bermain bersama Doni mulai menangis bangun, secara spontan aku menggendong Edi agar dia tenang. Ku rasa dia mimpi buruk di sore hari, aku suka sekali melihat wajahnya tersenyum dengan bekas air mata di pipi. Tidak lama setelah itu Tina ibunya Edi telah kembali ke rumah, ku suruh saja Doni mengantarkan Edi pada sang ibunda di rumahnya.
karena aku sering gila menatap cermin tubuhku lemas ditempeli si demam yang nakal, aku dibuat lemas selama tiga hari. Dari atas kasur aku sering melihat bayang keindahan masa lalu, aku tahu hari ini tepat sebulan kau meninggalkan aku sayang. Di hari rabu pukul 16.45 panasku mereda, tapi tubuh merasa lemas dan ingin beristirahat lagi. Aku berniat menuliskan cerita ini untuk di tinggalkan begitu saja.
Settiap orang memiliki cara masing-masing, dan ini lah caraku yang tak mudah dilihat kasat mata. 9 Desember pagi tadi dua anak kecil itu lewat lagi di depanku, tapi aku malah merasa menjadi ampas kopi yang mengendap di bawah. Selama ini dunia ini seperti gelas yang berisikan kopi manis, hitam dan menggoda adalah gambaran mereka yang buta. Ketika kau menggam secangkir kopi itu aku sebenarnya ada di sana, tapi kau hanya mau menikmati manisnya saja. Tanpa orang sepertiku dunia akan terasa pahit. Aku yakin bahwa kami yang merasa terlupakan tidak akan terbuang begitu saja.
Betapa indahnya ketika manusia seperti dirimu melepas kami lalu menari di tengah hamparan nisan korban pelampiasanmu yang lain, malam ini Doni bercerita prihal yang sama dengan aku. Hanya saja aku masih mampu mempertahankan seonggok hatiku, kini aku telah mengerti kenapa Doni tak banyak bicara. Ia menjelaskan padaku tentang sudut pandangnya di kehidupan ini, semua yang keluar dari mulut Doni terasa sama bahkan melebihi apa yang ku alami.
Tiga jam yang lalu bersamaan dengan diskusi malam aku menumbuhkan niat, sebuah harga mati yang tidak bisa dibeli atau diinjak lagi. Coba lihatlah lagi kebusukan sejarah kita, mungkin ini kali terkahir aku berucap tanpa berwujud. Tanpa sepengetahuan Doni sebenarnya aku masih menanti hadirnya suatu bentuk yang bernama kebenaran, hingga kata mati ini terangkai aku bentangkan kebencian diantara masa lalu dan hari ini. Kami berharap agar esok dapat mengenang hari ini sebagai kenangan indah.
Ayah dan Ibu yang terlupakan sejenak oleh cercaan mulut-mulut setan kini kembali tersenyum, lihatlah aku datang dari liang kubur hanya untuk hari esok yang gemilang. sebenarnya aku menulis ini secara diam-diam, dalam hati aku berterimakasih terimakasih kepada Doni. Orang seperti kami tidak mau lagi diperkosa oleh polutan seperti kalian, biarkan ku bawa diri ini menjauh dari pintu kebahagiaan yang telah tertutup.
Tidak terasa malam kian suntuk melihat kata-kata ku, apa lagi kau yang membaca. haaahahaha. sebuah cerita unik dari hasil proses steril ala pabrik susu kaleng, tidak ada satu pun yang bisa kau artikan walau satu huruf vokal sekalipun. telah lama aku mencintai huruf "A", sebab ia lah yang mengajari aku bicara. Tidak usah mengkerutkan jidat seperti itu, tolong nikmati saja pelarianmu di bumi ini. Selamat datang pagi terang untuk ku, dan selamat datang dunia ilusi untuk kalian.
Setelah ini rampung aku akan membuat srat pengunduran diriku, persetan dengan isi cerita ini nyata atau tidaknya. Tergantung apa yang akan aku berikan selanjutnya, yang terpenting hariku senang bersama Doni dan Edi menjadi ampas kopi. Terimakasih ayahanda medan...
oh iya, Persetan pula untuk Toni.. Aku berjanji cerita ini akan tetap bersambung, ga kayak cerita cinta ala serial cerita di SCTV !!
Selama pembuatan cerita yang nulis terpengaruh oleh bisikan Lagu-lagu yang berjudul: Kiasan (closehead), Seorang pemenang(closehead), Rekayasa genetika (infamy), Postcard untuk tuhan (captain jack), Atur aku (burgerkill) dan Pelacur (bunga hitam). Maka dari itu berilah maaf apa bila isinya rada ngawur. hahahahahasu kabeh !