Kabut tebal merajai di tiap ujung mataku memandang
Ku saksikan angin dan ombak menari-nari di bawah sang bulan
Tenang aku diam meninggalkan kerlingan cahaya kota di seberang sana
Satu, dua, tiga batang rokok ku habiskan, menikmati suasana dari sudut paling ujung
Tempat dimana aku mampu mendiamkan segala hal
Sungguh manis, semanis tora bika susu...
Sedangkan di depan sana cakrawala mulai menggoreskan cahaya yang ia miliki
Merah, biru, putih dan hitam..
Perlahan pun kerlingan kota mulai berganti menjadi cahaya yang kian jelas
Kapal-kapal seakan berhenti menawarkan cahaya untuk aku renungkan
Dan aku tetap saja tak mampu meraih bintang yang ku tatap kemarin
Semoga kini langkah kontaiku tak menjadi sia di tanah rantau
Ya, selalu saja begitu
sayangku....
Kamis25 juli 2013





0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.