Gitar Lapuk di Rumah Hantu

Seharusnya dunia itu adalah tempat kita untuk menjadi bebas. Tanpa perlu mencipta telaga dusta atau penjara gerak. Di manakah kau akan menunjukan makana kebebasan ? Seperti inikah hidup elang yang terpenjara, tanpa ampun dipaksa untuk menjalani apa yang ada. Kata mereka diluar sana, tuhan menciptakan cinta agar kita saling mengenal dan bahagia. Selama ini cintalah yang kerap menikam jantung kehidupan. Semua nampak seragam, berdosa di atas nama kesetiaan. Rapuh ku tatap dinding kamar. Entah siapa pelakunya, tanpa sadar membuat hati terlambat untuk memahami arti kedewasaan. cinta terlihat hanya sebatas alat, seperti palu yang dipukulkan ke kepala paku ? bedebah.. jika dibahas topik ini tidak akan selesai. cinta cinta dan cinta seratus persen hal yang menjongkokan akal sehat.


sekali lagi melihat dunia dari jendela kamar ilusi, coba merasakan hidup melalui kebohongan. Selamat tinggal kepada mereka yang sudah mendapatkan barcode dari tuhan-tuhannya. Torehan ke belakang sudah cukup untuk menjelaskan mereka yang sudah mati terbunuh penjaga pintu modal, pendiriannya sudah diperkosa berhala sendiri. Rasanya sang dewa kerap kali meminta tumbal di dalam ritual kehidupan. Berjalan semua manusia dengan label-label yang terbuat dari darah dan keringat. Bangkai sesama-pun dijadikan perhiasan diri sendiri. Sampai-sampai munculah sebuah kalam yang berkata inilah kebutuhan manusia yang selaras dengan kemajuan zaman. Persetan, bawa saja kemajuan kalian ke liang kubur !!


Dari dunia hingga cinta aku belajar menemukan kata, siapkan jiwa untuk kepal demi kepalan tangan. Namun di sini tetap saja terdiam, hati ini masih kecil untuk berlari. Menanti sesuatu di atas garis kehidupan, melihat kearah tempat penguasa bersilat lidah. Menulis semua aturan yang mengunci gerak pembangkang. Di sisi lain keraguan menempel pada sebagian dari kesadaran mereka, belajar dibangku kelas hingga menghisap rokok di parkiran, sampai menikmati minuman sendiri di kamar. Ini semua terjadi dengan sendirinya sejak 3 tahun silam. Setiap sudut keramaian aku bertanya, berusaha menembus hitam teramat pekat. Tirani memupuskan harapan sang kebebasan, menciptakan jurang yang tak bisa lagi ku selami. Semua tidak bisa dilihat begitu saja dengan kasat mata, karena minoritas yang bermain dibalik layar dan menjadikan dunia ini sebagai mainannya. Manusia selalu mencari kebenaran di dalam sumur gelap. keeksistensian-Nya sudah tidak terasa pada setiap wajah yang menatap langit-langit mimpi.


Sendirinya kegelian bertutur, berharap kapan malaikat turun. Mentari lupakan sebentar masalah ini, karena kenangan itu datang kembali. Kali ini tidak ada kesedihan. Jembatan tempat ku melabuhi segala cerita adalah tempat tidur yang pernah aku impikan. Kini semuanya sudah hampir rusak terbakar waktu. Kebutaan yang dahulu menjangkit di diriku sekarang sudah mulai sembuh, meski sakitnya terus membayang disetiap langkah kaki yang kusam. Demi satu hasrat berani ku rubah seluruh wajah hidupku, demi mereka aku berpaling menahan jati diri. Berkca pandangi aneka paras berpaham makna perbedaan, sebaliknya kepalsuan berkata kasar hingga aku mati terkuras lemas. Melepaskan molotof tidaklah semudah melempar batu, aku tahu itu semua dan aku memahami siapa diriku. Ditengah keletihan semua ingatanku yang hilang kami berbincang dua mata, sebagai penghantar malam yang kian berlarut mimpi-mimpi indah. hanya ada sebotol bir yang ku tuangkan untuk serigala jahat. Jika topeng malaikat menilai aku sedang bersusah hati, ku katakan tuhan palsu telah mati. ya.. hanya itu yang ingin ku katakan pada pengecut ini. Dengan sembunyi-sembunyi bulan meninggalkan keseriusan dan berganti merah merona. Siapa yang mau menyesali kehidupan yang telah dibawanya hingga sekarang, bahkan angin tak akan pernah meninggalkan debu jalanan. Kata adalah bicara dan nada adalah pertahanan. Pahamilah bahwa tiada hal apapun yang dapat membawa kita kembali ke masa lalu yang indah. Pecundang tak pernah mau menjadi pengecut. Kita hanya ingin menjadi diri sendiri, bukan berkompromi di jalur kemunafikan. sepertinya banyak yang tidak merasakan hidup, mereka semua seperti mainan remote control. Kesalahan adalah manusiawi, datanglah ke sini lihatlah siapa kita dan mereka. Jalan hidup sudah berseberangan, lupakan lah yang tak mampu memahami.


pinggiran jogja, 24 februari 2011
 
Copyright (c) 2010 Antara Kita. Blogger Templates by Bloggermint
Distributed by: best blogger template of 2011free blog template 01 - photo folio | best vpn windows 8 best vpn hide ip